Jabatan
Ilustrasi
Penulis: Mustamin Raga
ANEH sekali manusia ketika berhadapan dengan jabatan. Sesuatu yang katanya amanah justru dikejar dengan segala cara. Sesuatu yang katanya tanggung jawab justru diperebutkan. Sesuatu yang katanya kepercayaan justru membuat sebagian orang rela menyogok, menyuap, melobi, bahkan mengorbankan prinsip demi mendapatkannya. Tetapi ketika jabatan itu dicabut, orang yang sama bisa menangis seolah-olah kehilangan separuh hidupnya.
Mengapa sebuah kursi bisa begitu berharga bagi manusia?
Apakah karena kursi itu memang begitu mulia, atau karena di atasnya melekat kekuasaan, fasilitas, penghormatan dan rasa penting yang membuat seseorang merasa dirinya lebih berarti daripada orang lain?
Barangkali kita terlalu sering berbicara tentang bagaimana seseorang memperoleh jabatan, tetapi terlalu sedikit bertanya tentang apa yang sebenarnya ia lakukan setelah jabatan itu berada di tangannya. Kita sibuk melihat siapa yang naik dan siapa yang turun, siapa yang mendapat dan siapa yang kehilangan, tetapi lupa bahwa setiap jabatan pada akhirnya akan sampai pada satu titik yang sama: ditinggalkan.
Di situlah jabatan mulai menunjukkan wajahnya yang sesungguhnya.
Ada yang mengatakan jabatan adalah amanah. Ada yang menyebutnya tanggung jawab. Ada pula yang memandang jabatan sebagai sebuah kepercayaan. Tetapi tidak sedikit yang melihat jabatan sebagai rezeki, kesempatan, bahkan sebagai ruang untuk menunjukkan eksistensi dan mengaktualisasikan diri. Cara pandang terhadap jabatan itulah yang kemudian menentukan bagaimana seseorang memperoleh, menjalankan, dan mempertahankan jabatan yang dipercayakan kepadanya.
Bagi sebagian orang, jabatan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Ia menjadi tujuan yang ingin dicapai, bahkan kadang menjadi ukuran keberhasilan dalam perjalanan karier. Mereka bekerja keras, membangun reputasi, meningkatkan kemampuan, memperluas jaringan, lalu menunggu kesempatan datang. Itu barangkali sesuatu yang wajar. Sebab setiap orang tentu mempunyai keinginan untuk berkembang dan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar.
Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika jabatan tidak lagi dipandang sebagai konsekuensi dari kemampuan dan kepercayaan, melainkan sebagai sesuatu yang harus diperoleh dengan segala cara.
Ada yang melobi. Ada yang mendekati orang-orang yang dianggap mempunyai kekuasaan. Ada yang menyogok dan menyuap. Ada yang menjual pengaruh. Ada yang menggunakan kedekatan. Bahkan ada yang rela menggadaikan prinsip dan harga diri demi sebuah kursi.
Betapa mahal harga yang kadang harus dibayar manusia untuk mendapatkan sesuatu yang pada akhirnya hanya bersifat sementara.
Lebih ironis lagi, ada orang yang rela masuk ke dalam permainan politik demi memperoleh jabatan, meskipun jabatan yang diincarnya justru menuntut dirinya untuk menjaga netralitas dan profesionalitas. Ia ikut bermain karena merasa tanpa dukungan politik dirinya tidak akan sampai ke kursi yang diinginkan. Di titik ini, jabatan tidak lagi menjadi amanah yang dicari untuk mengabdi, tetapi berubah menjadi tujuan yang harus dimenangkan.
Padahal jabatan publik bukanlah hadiah untuk loyalitas politik. Ia bukan pula penghargaan karena seseorang pandai menyenangkan penguasa. Jabatan seharusnya diberikan kepada mereka yang dianggap mampu mengemban tanggung jawab, bekerja secara profesional, dan memberikan manfaat bagi kepentingan yang lebih besar.
Di sinilah kita menemukan sebuah ironi yang sering luput dari perhatian. Kita menyebut jabatan sebagai amanah, tetapi cara mendapatkannya terkadang jauh dari nilai-nilai amanah. Kita menyebutnya tanggung jawab, tetapi yang pertama kali dihitung justru fasilitas yang menyertainya. Kita menyebutnya kepercayaan, tetapi ketika kepercayaan itu dicabut, sebagian orang merasa seolah-olah seluruh kehidupannya ikut berakhir.
Ada orang yang ketika diberi jabatan justru menerimanya dengan berat hati. Bukan karena tidak menginginkannya, tetapi karena ia memahami bahwa jabatan membawa beban yang tidak ringan. Ia tahu bahwa di balik sebuah tanda tangan terdapat konsekuensi. Di balik sebuah keputusan terdapat tanggung jawab. Di balik kewenangan terdapat risiko. Dan di balik setiap kebijakan terdapat kepentingan banyak orang yang harus dipertimbangkan.
Orang seperti ini mungkin tidak terlalu sibuk mencari jabatan. Sebab ia memahami bahwa semakin tinggi sebuah jabatan, semakin panjang pula bayangan tanggung jawab yang mengikutinya.
Tetapi ada pula orang yang rasanya seperti mau mati ketika jabatannya diambil atau dicabut.
Ada yang menangis sesenggukan ketika mengetahui dirinya tidak lagi menduduki kursi yang selama ini ditempatinya. Ada yang kecewa, marah, bahkan merasa diperlakukan tidak adil. Kehilangan jabatan tentu bukan perkara kecil bagi seseorang yang telah lama membangun karier. Tetapi menjadi pertanyaan ketika yang paling terasa dari kehilangan jabatan bukan hilangnya kesempatan untuk mengabdi, melainkan hilangnya fasilitas, kewenangan, dan penghormatan yang selama ini datang bersama jabatan.
Sebab ketika jabatan berakhir, biasanya yang pertama kali ikut pergi adalah fasilitas.
Mobil dinas kembali kepada negara. Ruang kerja berganti penghuni. Telepon yang dahulu tidak pernah berhenti berdering mungkin tiba-tiba menjadi sunyi. Orang-orang yang dahulu datang membawa senyum dan menundukkan kepala mungkin perlahan mulai menjauh. Mereka yang dulu begitu sibuk mencari kesempatan untuk bertemu, mungkin tidak lagi merasa perlu mengetuk pintu.
Pada saat itulah seseorang baru dapat mengetahui apakah dirinya selama ini dihormati karena pribadinya atau karena jabatannya.
Sebab penghormatan yang lahir dari jabatan sering kali bukan penghormatan kepada manusia, melainkan penghormatan kepada kekuasaan yang melekat pada kursi yang didudukinya. Ketika kursi itu berpindah, penghormatan pun ikut berpindah. Orang yang kemarin disambut dengan berdiri, hari ini mungkin dilewati begitu saja.
Dan mungkin itulah salah satu kesedihan terbesar dari orang yang terlalu lama menikmati kekuasaan: ia akhirnya lupa bahwa sebagian besar orang yang berada di sekelilingnya bukan sedang mencintai dirinya, melainkan sedang menghormati jabatan yang ada pada dirinya.
Jabatan memang mempunyai daya yang luar biasa terhadap manusia. Ia bisa membuat seseorang merasa penting. Ia bisa membuat seseorang merasa dibutuhkan. Bahkan tanpa disadari, ia bisa membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Padahal sesungguhnya jabatan tidak pernah membuat seseorang menjadi lebih mulia sebagai manusia.
Jabatan hanya memberikan kewenangan yang lebih besar kepada seseorang untuk berbuat sesuatu bagi orang lain.
Karena itu, semakin tinggi sebuah jabatan, seharusnya semakin besar pula kesadaran tentang tanggung jawab yang menyertainya. Jabatan bukanlah tempat untuk memperbesar diri, melainkan ruang untuk memperbesar manfaat.
Bukan tentang berapa banyak orang yang tunduk ketika kita lewat, tetapi berapa banyak orang yang hidupnya menjadi lebih baik karena keputusan yang kita buat.
Bukan tentang berapa besar fasilitas yang kita terima, tetapi seberapa besar tanggung jawab yang sanggup kita pikul.
Bukan tentang seberapa banyak orang yang datang membawa pujian, tetapi seberapa berani kita menerima kritik ketika keputusan kita tidak sesuai dengan harapan orang banyak.
Sayangnya, tidak semua orang melihat jabatan dari sudut pandang seperti itu. Ada yang lebih sibuk menjaga kursinya daripada menjaga amanahnya. Ada yang lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan integritas. Ada yang lebih khawatir tidak lagi dihormati daripada khawatir tidak mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Mereka lupa bahwa jabatan adalah sesuatu yang sementara, sementara jejak dari sebuah jabatan bisa tinggal jauh lebih lama daripada masa jabatan itu sendiri.
Sebab jabatan pada hakikatnya bukan hanya sebuah kedudukan. Ia adalah ujian terhadap watak.
Ketika seseorang belum mempunyai jabatan, kita belum benar-benar tahu bagaimana ia akan menggunakan kekuasaan. Tetapi ketika kekuasaan sudah berada di tangannya, di situlah wataknya perlahan terlihat. Apakah ia menjadi lebih rendah hati atau semakin angkuh? Apakah ia semakin mudah mendengar atau justru semakin sulit menerima kritik? Apakah ia menggunakan kewenangan untuk kepentingan banyak orang atau menjadikannya alat untuk menguatkan dirinya sendiri?
Jabatan menguji manusia bukan hanya ketika ia berada di atas, tetapi juga ketika ia harus turun.
Sebab mempertahankan sikap rendah hati ketika sedang berkuasa mungkin sulit, tetapi menerima kehilangan kekuasaan dengan lapang dada jauh lebih sulit.
Di situlah kedewasaan seseorang diuji.
Orang yang memahami jabatan sebagai amanah akan tahu bahwa suatu hari amanah itu akan dikembalikan. Ia tidak akan menganggap kursi sebagai miliknya. Ia hanya sedang duduk di sana untuk suatu masa. Karena itu, ketika waktunya tiba untuk berdiri dan meninggalkan kursi tersebut, ia tidak merasa kehilangan dirinya.
Sebab dirinya tidak pernah ia gantungkan pada jabatan.
Berbeda dengan orang yang menjadikan jabatan sebagai sumber identitas. Ketika jabatan hilang, seolah-olah dirinya juga ikut hilang. Ketika fasilitas berhenti, ia merasa tidak lagi berarti. Ketika orang-orang tidak lagi menunduk, ia merasa tidak lagi dihormati.
Padahal manusia seharusnya lebih besar daripada jabatannya.
Jabatan boleh tinggi, tetapi manusia tetaplah manusia.
Hari ini seseorang bisa menjadi kepala. Besok ia bisa menjadi anggota. Hari ini seseorang bisa memberikan perintah. Besok mungkin ia yang menerima perintah. Hari ini orang lain berdiri ketika ia masuk ke ruangan. Besok mungkin ia hanya menjadi seseorang yang lewat di depan ruangan itu.
Begitulah kehidupan bekerja.
Tidak ada jabatan yang abadi.
Hari ini seseorang duduk di sebuah kursi, besok orang lain akan duduk di sana. Hari ini namanya terpampang di pintu sebuah ruangan, suatu hari nama itu akan diturunkan. Hari ini orang-orang memanggilnya dengan segala macam gelar kehormatan, suatu ketika gelar itu akan kembali menjadi bagian dari masa lalu.
Yang tersisa kemudian bukan kursinya.
Bukan mobil dinasnya.
Bukan ruang kerjanya.
Bukan pula banyaknya orang yang pernah tunduk kepadanya.
Yang tersisa adalah jejak.
Tentang apa yang pernah dilakukan. Tentang keputusan yang pernah dibuat. Tentang orang-orang yang pernah dibantu. Tentang keberanian yang pernah ditunjukkan. Tentang kesalahan yang pernah diperbuat. Dan tentang apakah selama memegang jabatan ia telah menjadi bagian dari solusi atau justru menjadi bagian dari persoalan.
Mungkin karena itu, seandainya setiap orang benar-benar memahami tanggung jawab dan konsekuensi sebuah jabatan, mereka akan berpikir berkali-kali sebelum mengejarnya.
Sebab jabatan bukan hanya soal bagaimana mendapatkannya. Ia juga tentang bagaimana menjalankannya dengan benar, bagaimana mempertanggungjawabkannya, dan bagaimana meninggalkannya dengan terhormat.
Tidak ada yang salah dengan mengejar jabatan jika yang dikejar adalah kesempatan untuk berbuat lebih banyak. Tidak ada yang salah dengan menerima jabatan jika yang diterima adalah amanah untuk bekerja lebih keras. Yang menjadi persoalan adalah ketika jabatan dikejar demi kekuasaan, diterima demi fasilitas, dipertahankan demi kehormatan, dan ditangisi ketika kehilangan karena manusia telah terlanjur menganggap kursi sebagai bagian dari dirinya.
Jabatan hanyalah titipan. Dan setiap titipan, pada waktunya, akan dikembalikan.
Tidak ada seorang pun yang bisa membawa kursinya pulang. Tidak ada seorang pun yang bisa mempertahankan kekuasaannya selamanya. Tidak ada seorang pun yang bisa meminta agar orang lain terus tunduk kepadanya setelah kewenangan itu berakhir.
Yang bisa dibawa hanyalah nama baik dan jejak yang ditinggalkan.
Maka barangkali pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Jabatan apa yang pernah saya miliki?”
Tetapi:
“Apa yang telah saya lakukan ketika jabatan itu berada di tangan saya?”
Sebab ukuran seorang pejabat bukanlah bagaimana ia diperlakukan ketika sedang berkuasa, tetapi bagaimana ia dikenang ketika kekuasaan itu telah selesai.
Dan mungkin, di situlah makna jabatan yang sesungguhnya: bukan tentang seberapa tinggi seseorang duduk di atas kursi kekuasaan, tetapi seberapa banyak ia mampu menundukkan egonya ketika diberi kesempatan untuk berbuat bagi orang lain. (***)
Sunggumina, 22 Agustus 2026
Berita Serupa yang Mungkin Anda Suka
-
Menjemput 100 Hari Hati-Damai, Azhari Azis: Jadikan Gowa Lebih Bersih
Wawancara Khusus Dengan Kadis Lingkungan Hidup Pemkab Gowa, Azhari Azid AP MM.
-
MBG dan Cek Kosong Kekuasaan
Penulis Mohammad Suaib Mappasila
Staf Ahli Komisi III DPR RI, Direktur P...
-
Masa Depan Dan Keberlanjutan Sidrap, Menunggu Atau Membentuk
Penulis Mursalim Nohong
(Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universi...




