Mahasiswa Unismuh Makassar Kembangkan Aplikasi Penerjemah Bahasa Isyarat Dua Arah Berbasis AI

22 Agustus 2026 20:25:39 Teknologi
Reporter : asa   |   Editor : Admin   |   Jumlah dibaca: 33
Tim peneliti pembuat aplikasi kaum tunarungu

MAKASSAR, TERAS BERITA, COM----- Selama ini, sebuah percakapan sederhana seperti di loket layanan publik bisa terasa seperti tembok tinggi bagi jutaan penyandang tunarungu di Indonesia, mereka paham tetapi tak selalu bisa dipahami. Ada begitu banyak kalimat yang tak pernah sampai bukan karena tak ingin diucapkan, tapi karena tak ada yang mengerti bahasanya.

Hal inilah kemudian yang membuat lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, yang diketuai Andi Syafiqah Ramadhani dengan anggota Andi Akbar Arya Putra, Muh Asad Habib, Tiara Nabila Rajab, dan Sri Hasriani, dengan bimbingan dosen pendamping Chyquitha Danuputri, S.Kom., M.Kom, membuat sebuah aplikasi yang bisa membantu kaum tunarungu.

Menurut Andi Syafiqah, bahwa keterbatasan akses komunikasi pada saat ini, masih dialami oleh penyandang tunarungu di Indonesia. 

Berangkat dari permasalahan ini, lanjutnya, mendorong kami untuk merancang aplikasi penerjemah bahasa isyarat dua arah yang bernama AmertaSign. Aplikasi ini dirancang guna untuk membantu penyandang tunarungu untuk bisa berkomunikasi secara mandiri dengan masyarakat umum. 

Proyek ini didanai melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) skema Karsa Cipta (PKM-KC) dibawah naungan Kemendiktisaintek. 

Lebih jauh dikatakannya, aplikasi ini disusun karena adanya hambatan komunikasi verbal yang kerap kali membuat penyandang tunarungu kesulitan untuk mengakses layanan publik, dunia pendidikan, hingga interksi sosial sehari-hari. 

Persoalan ini semakin relevan dengan adanya peraturan menteri PANRB nomor 11 tahun 2024 tentang penyelenggaraan pelayanan publik ramah kelompok rentan, yang mewajibkan penyelenggara layanan publik menyediakan akses informasi melalui bahasa isyarat atau juru bahasa.

"Aplikasi ini memanfaatkan teknologi seperti MediaPipe Hands untuk melacak gerakan tangan pengguna secara real-time melalui kamera smartphone. Hasil pelacakan tersebut diproses menggunakan kecerdasan buatan untuk bisa megenali kosakata dasar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang kemudian ditampilkan dalam bentuk teks dan dibacakan melalui fitur Text-to-Speech," ujarnya, Sabtu 22/8, di Kampus Unismuh Makassar.

Andi Syafiqah, menjelaskan, selain menerjemahkan gerakan isyarat menjadi suara, AmertaSign juga menyediakan alur komunikasi sebaliknya. Masyarakat umum dapat berbicara atau mengetik pesan melalui fitur Speech-to-Text, yang kemudian ditampilkan sebagai teks kepada pengguna tunarungu. Aplikasi ini turut dilengkapi dengan kamus digital BISINDO sebagai media edukasi bahasa isyarat bagi masyarakat luas.

Dikatakannya, amertaSign mungkin baru langkah kecil dari kampus biru di Makassar, akan tetapi ini membawa pesan besar bahwanya inklusivitas bukan sekedar wacana, melainkan sesuatu yang bisa dirancang, dicoding, dan dijalankan satu gestur, satu suara, satu kesetaraaan pada suatu waktu. Perjalanan AmertaSign masih panjang, namun satu langkah kecil menuju komunikasi yang setara sudah mulai diayunkan dari Makassar. 

Sementara itu, dosen pendamping Chyquitha Danuputri, S.Kom., M.Kom, mengaku gembira dengan upaya yang dilakukan anak bimbingannya, dalam membantu para penyandang tunarungu. "Mudah-mudahan penelitian ini bisa berjalan dengan lancar," katanya. (***)

Nama

Komentar

Berita Serupa yang Mungkin Anda Suka

Berita Terbaru