Ketika Listrik Mati, Tetapi Bahasa Tetap Menyala
Mustamin Raga
Penulis: Mustamin Raga
(Penulis sosial budaya dan juga seorang essais)
ADA sesuatu yang menarik dari cara sebuah institusi menyampaikan kabar buruk. Kabar buruknya sebenarnya sederhana. Listrik akan diputus sementara pada jam-jam tertentu. Masyarakat akan kehilangan listrik. Rumah menjadi gelap, televisi mati, Wi-Fi terputus, mesin air berhenti, pekerjaan terganggu, anak-anak yang sedang belajar harus mencari cahaya lain.
Bagi sebagian orang, pemadaman listrik bahkan bukan perkara kecil karena menyangkut pekerjaan, penghasilan, pelayanan, dan aktivitas sehari-hari. Tetapi lihat bagaimana kabar itu disampaikan. Tidak ada kata “pemadaman”. Tidak ada kata “mati listrik”. Bahkan kata “listrik padam” pun tidak ditemukan. Yang muncul justru sebuah istilah yang terdengar begitu positif: “Peningkatan Keandalan Listrik.” Lalu masyarakat diberi tahu bahwa PLN melakukan “pengaturan beban” sebagai akibat dari “pemeliharaan instalasi ketenagalistrikan”.
Ini menarik. Karena apa yang secara sederhana dipahami masyarakat sebagai listrik yang akan mati, dalam bahasa institusi berubah menjadi sebuah tindakan yang terdengar hampir seperti prestasi yakni peningkatan keandalan. Listrik yang tidak menyala disebut bagian dari upaya membuat listrik lebih andal. Di sinilah bahasa menjadi menarik.
Kita sedang berhadapan dengan dua kenyataan yang berbeda: kenyataan material dan kenyataan linguistik. Kenyataan materialnya adalah pada jam tertentu listrik tidak tersedia. Kenyataan linguistiknya adalah PLN tidak mengatakan listrik akan mati. PLN mengatakan sedang melakukan pengaturan beban demi peningkatan keandalan. Keduanya berbicara tentang peristiwa yang sama, tetapi menghasilkan kesan yang berbeda. Dan di sinilah teori Pierre Bourdieu tentang bahasa dan kekuasaan simbolik menjadi relevan.
Bourdieu mengingatkan bahwa bahasa tidak pernah benar-benar netral. Bahasa bukan hanya alat untuk menyampaikan informasi. Bahasa juga berada dalam relasi kekuasaan. Siapa yang mempunyai legitimasi untuk berbicara, dalam posisi apa ia berbicara, dan bahasa seperti apa yang dianggap sah, semuanya memengaruhi bagaimana sebuah realitas dipahami.
Maka persoalannya bukan semata-mata pada kata. Persoalannya adalah apa yang dilakukan kata terhadap kenyataan.
Kata “pemadaman” memiliki daya psikologis yang berbeda dengan “pengaturan beban”. Pemadaman memberi tahu kita bahwa sesuatu akan hilang: listrik. Pengaturan beban terdengar seperti sebuah proses teknis yang rasional dan terkendali. Kata “mati” memberi kesan gangguan. Sebaliknya, “peningkatan keandalan” justru memberikan kesan perbaikan. Dengan kata lain, bahasa telah melakukan pekerjaan yang cukup canggih: menggeser pusat perhatian dari dampak kepada alasan.
Masyarakat tidak diajak pertama-tama memikirkan bahwa listriknya akan mati. Masyarakat diajak memahami bahwa PLN sedang melakukan pekerjaan demi keandalan sistem. Ini adalah bentuk eufemisasi, yakni penghalusan bahasa terhadap sesuatu yang sesungguhnya memiliki konsekuensi tidak menyenangkan. Dalam perspektif Bourdieu, eufemisasi bukan hanya persoalan mempercantik kalimat. Ia berkaitan dengan bagaimana sesuatu dapat dikatakan dalam ruang sosial tanpa secara langsung membuka seluruh kekuatan atau konsekuensi yang terkandung di dalamnya.
Coba perhatikan lagi pengumuman tersebut. Judulnya bukan “Pengumuman Pemadaman Listrik”. Judulnya adalah “Pengumuman Peningkatan Keandalan Listrik.” Judul bekerja sebagai pintu masuk bagi pembaca. Sebelum membaca daftar wilayah dan jam, pembaca sudah lebih dahulu diberi bingkai bahwa yang sedang terjadi adalah peningkatan keandalan. Baru kemudian muncul daftar panjang wilayah dan waktu: pukul 09.00–12.00, 14.30–18.00, 17.30–20.00, bahkan sampai 21.30–24.00.
Jika bahasa judulnya kita lepaskan dan kita lihat substansinya, sebenarnya yang sedang diumumkan adalah ketiadaan listrik pada wilayah dan waktu tertentu. Tetapi bahasa resmi membuat ketiadaan itu tampil sebagai bagian dari sebuah pekerjaan teknis yang positif.
Di sinilah kita bisa menyebutnya sebagai komunikasi manipulatif dalam pengertian linguistik, dengan catatan penting bahwa bukan berarti kita sudah membuktikan bahwa institusi tersebut mempunyai niat jahat untuk menipu publik. Yang dapat kita analisis adalah efek komunikatif dari pilihan katanya. Sebab manipulasi tidak selalu hadir dalam bentuk kebohongan. Kadang-kadang manipulasi justru bekerja melalui cara memilih kata yang benar tetapi tidak menghadirkan seluruh pengalaman yang sebenarnya.
Tidak ada satu pun kalimat dalam pengumuman itu yang secara faktual harus dianggap bohong. Memang ada pemeliharaan. Memang ada pengaturan beban. Memang tujuan akhirnya bisa saja meningkatkan keandalan listrik. Tetapi ada satu hal yang hilang: pengalaman konsumen pada saat listrik tidak tersedia.
Dan justru pengalaman itulah yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.
Bayangkan seseorang menerima pengumuman itu pada pukul 08.55. Ia tidak sedang berpikir tentang reliability of electrical system. Ia mungkin sedang berpikir: lima menit lagi listrik mati. Tetapi PLN meminta masyarakat membacanya dengan bahasa teknis bahwa akan dilakukan pengaturan beban dalam rangka menjaga keandalan sistem. Di sinilah kekuasaan simbolik bekerja secara halus.
Bourdieu menyebut bahwa efektivitas bahasa institusional tidak hanya berasal dari kata-kata itu sendiri, tetapi juga dari otoritas institusi yang mengucapkannya. Bahasa menjadi kuat karena datang dari pihak yang memiliki legitimasi untuk berbicara. Karena itu, ketika PLN mengatakan “pengaturan beban”, masyarakat cenderung menerima istilah itu sebagai bahasa yang sah. Ketika PLN mengatakan “peningkatan keandalan”, masyarakat diarahkan untuk memahami pemadaman sebagai bagian dari sebuah proses perbaikan. Dan ketika PLN mengatakan bahwa kondisi itu “dapat mempengaruhi aktivitas masyarakat dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan”, lagi-lagi pilihan katanya menarik. Ketidaknyamanan.
Bagi PLN mungkin itu istilah yang sopan. Tetapi bagi seorang pedagang yang kehilangan omzet, seorang mahasiswa yang sedang mengikuti ujian daring, seorang ibu yang tidak dapat menggunakan pompa air, seorang pekerja yang harus menyelesaikan pekerjaan menggunakan komputer, atau sebuah usaha yang bergantung pada listrik, persoalannya mungkin sudah lebih dari sekadar ketidaknyamanan. Ada biaya. Ada kehilangan waktu. Ada pekerjaan yang tertunda. Ada aktivitas yang berhenti. Tetapi institusi memilih kata yang paling lunak: ketidaknyamanan.
Bahasa, sekali lagi, menjadi semacam bantalan. Ia meredam benturan antara tindakan dan perasaan penerima tindakan. Menariknya lagi, pengumuman tersebut ditutup dengan permohonan maaf dan informasi mengenai kanal pengaduan melalui PLN Mobile atau 123. Maka konstruksi komunikasinya menjadi sangat lengkap: tindakan yang sebenarnya mengganggu dibingkai sebagai upaya peningkatan keandalan; dampaknya disebut ketidaknyamanan; lalu institusi meminta maaf dan menyediakan saluran pengaduan. Semuanya terdengar sopan. Semuanya terdengar rasional. Semuanya terdengar profesional. Tetapi listrik tetap mati.
Inilah ironi paling menarik dari pengumuman tersebut: bahasa menjadi semakin terang justru ketika rumah-rumah akan menjadi gelap.
Kalau kita menggunakan kacamata Bourdieu, persoalannya bukan hanya apakah masyarakat mendapatkan informasi atau tidak. Informasinya justru sangat banyak. Ada tanggal, jam, wilayah, nama jalan, bahkan rentang waktu yang cukup rinci. Yang menarik adalah bagaimana realitas itu diberi nama. Sebab memberi nama berarti memberi bingkai. Dan memberi bingkai berarti ikut menentukan bagaimana sesuatu dipersepsikan.
Pemadaman bisa dipahami sebagai gangguan. Tetapi “pengaturan beban” membuatnya terdengar sebagai keputusan teknis. Pemeliharaan bisa dipahami sebagai pekerjaan yang menyebabkan listrik tidak tersedia. Tetapi “peningkatan keandalan” membuat akibatnya terdengar seperti investasi menuju sesuatu yang lebih baik. Di situlah komunikasi institusional dapat berubah menjadi komunikasi persuasif yang bekerja secara simbolik.
Masyarakat tidak dipaksa menerima sebuah kebohongan. Mereka justru diberi sebuah cara tertentu untuk memahami kenyataan. Dan kekuasaan simbolik sering bekerja justru dengan cara seperti itu: bukan dengan memerintah orang untuk percaya, tetapi dengan membuat satu cara melihat kenyataan terasa sebagai cara yang paling wajar.
Karena itu, kita tidak perlu buru-buru mengatakan bahwa pengumuman PLN tersebut adalah kebohongan. Justru lebih menarik kalau kita mengatakan: Ini adalah contoh bagaimana sebuah institusi dapat mengatakan sesuatu yang benar dengan cara yang membuat konsekuensi ketidaknyamanannya terdengar jauh lebih ringan daripada kenyataan yang dialami masyarakat. Dan di situlah letak ironi komunikasi modern.
Saat ini kita hidup pada zaman di mana institusi semakin pandai menjelaskan sesuatu tanpa selalu menggunakan kata yang paling sederhana untuk menyebutnya. Pemecatan menjadi penyesuaian organisasi. Kenaikan harga menjadi penyesuaian tarif. Pemotongan menjadi efisiensi. Penggusuran menjadi penataan. Pemadaman menjadi pengaturan beban. Kata-kata itu tidak selalu salah. Tetapi kata-kata itu mempunyai pekerjaan lain yakni membuat kenyataan terasa lebih jinak daripada kenyataan itu sendiri.
Maka, barangkali, kita perlu belajar membaca pengumuman institusi bukan hanya dengan pertanyaan: “Apa yang mereka katakan?” Tetapi juga: “Apa yang sengaja tidak mereka katakan?”
Dalam pengumuman PLN ini, jawabannya sangat sederhana. Mereka menjelaskan panjang lebar tentang keandalan, pemeliharaan, pengaturan beban, permohonan maaf dan ketidaknyamanan. Tetapi ada satu kata yang justru paling dekat dengan pengalaman masyarakat dan tidak muncul sama sekali yakni kata PADAM. Dan mungkin di situlah bahasa memperlihatkan kekuasaannya. Listrik boleh padam. Tetapi dalam bahasa resmi, ia tidak pernah benar-benar disebut padam. Itulah bentuk komunikasi yang menarik untuk dibaca melalui Bourdieu: bukan karena bahasanya berbohong, melainkan karena bahasa memilih kenyataan mana yang hendak ditonjolkan dan kenyataan mana yang dibuat tidak terlalu terlihat.
Dan ketika bahasa institusi berhasil membuat masyarakat menerima sebuah pengalaman yang sesungguhnya tidak menyenangkan sebagai sesuatu yang terdengar wajar, teknis, dan bahkan positif, kita telah memasuki wilayah kekuasaan simbolik. Bukan kekuasaan yang mematikan lampu melainkan kekuasaan yang mengatur bagaimana kita menyebut lampu yang sedang mati. (***)
_Gerhana Alauddin, 34 Agustus 2026_
Berita Serupa yang Mungkin Anda Suka
-
MBG dan Cek Kosong Kekuasaan
Penulis Mohammad Suaib Mappasila
Staf Ahli Komisi III DPR RI, Direktur P...






