Haruskah Begini Jalan Yang Ditempuh
Mustamin Raga
Penulis: Mustamin Raga
(Penulis sosial kemasyarakat dan seorang essais)
SAYA baru saja keluar dari ruang sidang. Tetapi rasanya saya tidak benar-benar keluar. Sebagian dari diri saya masih tertinggal di dalam ruangan itu, tertinggal bersama suara-suara yang tadi bergema, bersama wajah-wajah yang tegang, bersama kata-kata yang mungkin tidak akan pernah bisa ditarik kembali.
Dan terutama, tertinggal bersama wajah seorang teman.
Teman yang dulu pernah berdiri di samping saya. Teman yang dahulu berjalan bersama saya dari satu rumah ke rumah yang lain, mengetuk pintu rakyat, meminta dukungan, meyakinkan mereka bahwa kami datang membawa perubahan. Kami pernah sama-sama berjuang. Kami pernah sama-sama susah. Kami pernah sama-sama merasa menjadi bagian dari orang-orang yang sedang melawan ketidakadilan.
Kami satu partai, satu barisan, satu penderitaan.
Sampai akhirnya takdir membawa kami ke dua kursi yang berbeda. Ia menjadi Bupati. Saya menjadi anggota DPRD. Dan hari ini, saya duduk di sebuah ruang sidang untuk menyelidiki dirinya.
Saya tahu, seorang Bupati bukan manusia yang kebal dari kesalahan. Kalau ada dugaan pelanggaran, periksa. Kalau ada dugaan korupsi, selidiki. Kalau ada pelanggaran etik, tentu harus dipertanggungjawabkan. Saya tidak sedang membela kesalahan. Saya hanya sedang mempertanyakan cara kita mencari kebenaran.
Sebab hari ini saya menyaksikan sesuatu yang membuat hati saya terasa begitu berat.
Aib pribadi seorang teman dibuka di hadapan publik. Bukan hanya di hadapan kami, 45 orang anggota DPRD. Bukan hanya di hadapan masyarakat di daerah kami. Tetapi disiarkan secara langsung dan ditonton oleh begitu banyak orang, termasuk mereka yang bahkan tidak mengenal kami.
Peristiwa yang semestinya mungkin cukup menjadi bagian dari proses pemeriksaan, tiba-tiba berubah menjadi tontonan publik. Nama, kehidupan pribadi, dan hal-hal yang sangat manusiawi—hal-hal yang seharusnya dibicarakan dengan kehati-hatian—hari ini semuanya terbuka, terpampang, dan menjadi konsumsi jutaan mata.
Saya tiba-tiba merasa sangat kecil. Karena saya ikut berada di sana. Saya ikut menjadi bagian dari proses itu. Saya ikut membiarkan sesuatu yang begitu pribadi dibawa ke tengah panggung yang begitu besar.
Saya bertanya kepada diri sendiri berkali-kali: Haruskah begini jalan yang kita tempuh?
Haruskah untuk mencari kebenaran, kita harus membuka seluruh luka seseorang? Haruskah untuk menyelidiki dugaan pelanggaran, kita harus membuat seseorang kehilangan kehormatan di depan jutaan orang? Haruskah sebuah proses politik berubah menjadi panggung yang mempertontonkan sisi paling rapuh dari kehidupan seseorang?
Saya tidak tahu.
Tetapi saya tahu satu hal: saya menyesal.
Menyesal bukan karena hak angket ini ada. Menyesal bukan karena DPRD menjalankan fungsi pengawasan. Tetapi saya menyesal jika dalam proses ini kami telah kehilangan rasa kemanusiaan.
Saya menyesal jika kami telah lupa bahwa orang yang sedang kami periksa itu bukan sekadar "Bupati". Ia adalah seorang manusia. Ia punya keluarga, punya anak, punya orang tua, punya teman, punya masa lalu, dan punya harga diri.
Dan yang paling menyakitkan bagi saya: ia pernah menjadi teman saya.
Mungkin banyak orang akan berkata, "Jangan bawa perasaan ke dalam politik."
Benar. Politik membutuhkan ketegasan. Politik membutuhkan keberanian. Politik membutuhkan sikap. Tetapi apakah menjadi tegas berarti kita harus kehilangan belas kasih? Apakah menjadi berani berarti kita harus tega mempermalukan? Apakah menjalankan fungsi pengawasan berarti kita harus menanggalkan seluruh rasa kemanusiaan?
Saya tidak yakin.
Justru mungkin di situlah ukuran kematangan kita: menguji seseorang tanpa harus menghancurkannya; mengungkap kesalahan tanpa harus membuka seluruh aibnya; menyelidiki dugaan pelanggaran tanpa menjadikan kehidupan pribadi seseorang sebagai hiburan publik; serta mengoreksi kekuasaan tanpa menghilangkan martabat manusia.
Saya teringat masa lalu.
Dulu, ketika kami masih berjuang bersama, kami tidak pernah membayangkan akan sampai pada titik seperti ini. Tidak pernah. Kami membayangkan ketika salah satu dari kami mendapatkan amanah, yang lain akan menjadi orang yang mengingatkan.
Kalau ia salah, saya akan berkata, "Teman, itu salah." Kalau saya salah, ia akan mengatakan hal yang sama.
Bukankah seharusnya begitu persahabatan dibawa ke dalam politik? Bukankah seharusnya seorang teman menjadi orang pertama yang berani mengingatkan, bukan orang pertama yang mencari kesempatan untuk menjatuhkan?
Tetapi kekuasaan punya cara sendiri untuk mengubah hubungan. Ia menciptakan jarak. Ia menciptakan kecemburuan. Ia menciptakan perasaan ditinggalkan.
Dan saya harus jujur kepada diri sendiri. Mungkin ada sebagian dari kami yang terluka bukan karena rakyat dirugikan, tetapi karena kami merasa tidak lagi diperhitungkan.
Kami pernah berjuang bersama. Tetapi ketika ia menjadi Bupati, banyak orang baru datang. Orang-orang baru masuk ke lingkarannya. Kami yang dahulu bersamanya justru merasa semakin jauh. Dan mungkin, tanpa kami sadari, rasa kecewa itu perlahan berubah menjadi kemarahan.
Kemarahan kemudian mencari alasan. Dan alasan itu akhirnya menemukan panggungnya di ruang sidang ini.
Betapa menyakitkannya mengakui itu. Tetapi bukankah kejujuran kepada nurani harus dimulai dari keberanian mengakui kelemahan diri sendiri?
Hari ini saya melihat teman saya dibicarakan di depan jutaan orang. Dan tiba-tiba saya tidak lagi melihat seorang Bupati. Saya melihat seorang manusia yang pernah duduk bersama saya. Saya melihat seorang kawan seperjuangan. Saya melihat seseorang yang dahulu sama-sama berkeringat bersama saya.
Dan saya bertanya: Apakah memang harus begini akhirnya?
Apakah sebuah persahabatan politik harus berakhir dengan saling membuka luka? Apakah perbedaan kepentingan harus berakhir dengan penghancuran martabat? Apakah untuk membuktikan siapa yang benar, kita harus membuat yang lain kehilangan kehormatan?
Saya tidak punya jawaban. Yang saya punya hanya penyesalan. Penyesalan yang mungkin datang terlambat.
Besok, mungkin sidang akan dilanjutkan. Akan ada argumentasi baru. Akan ada dokumen baru. Akan ada tuduhan baru. Mungkin akan ada keputusan yang semakin mendekatkan kami kepada pemakzulan.
Dan mungkin saya akan kembali duduk di kursi yang sama. Tetapi malam ini, sebelum semua itu terjadi, saya ingin berbicara kepada diri saya sendiri.
Saya ingin mengatakan: jangan sampai kau kehilangan nuranimu hanya karena sedang menjalankan politik. Jangan sampai kau begitu sibuk mencari kesalahan orang lain sampai lupa memeriksa niatmu sendiri. Jangan sampai kau menggunakan kata "rakyat" untuk menyembunyikan kepentinganmu sendiri. Jangan sampai kau mengira bahwa menjatuhkan seseorang selalu berarti menyelamatkan daerah.
Dan jangan sampai kau lupa: orang yang hari ini sedang kau jatuhkan pernah menjadi orang yang berjalan bersamamu ketika kau sendiri belum menjadi siapa-siapa.
Saya tidak tahu bagaimana akhir dari semua ini. Saya tidak tahu apakah Bupati akan tetap bertahan. Saya tidak tahu apakah hak angket ini akan berujung pada pemakzulan. Saya tidak tahu siapa yang kelak akan dianggap benar oleh sejarah.
Tetapi saya tahu, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang jatuh. Sejarah juga akan mencatat bagaimana kita menjatuhkannya.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika semua kegaduhan ini telah berlalu, ketika kamera sudah dimatikan, ketika siaran langsung sudah selesai, ketika orang-orang sudah berhenti membicarakan kami, saya akan kembali mengingat hari ini.
Saya mungkin tidak lagi mengingat seluruh argumentasi yang disampaikan di ruang sidang. Saya mungkin lupa siapa yang paling keras berbicara. Tetapi saya akan selalu ingat satu hal: wajah teman saya ketika aibnya dibuka di hadapan jutaan manusia.
Dan mungkin pada saat itu saya akan bertanya kepada diri sendiri:
"Bukankah kita bisa mencari kebenaran tanpa membuat seseorang kehilangan martabatnya?"
"Bukankah kita bisa berbeda tanpa harus saling menghancurkan?"
"Bukankah kita bisa mengoreksi seorang teman tanpa harus mempermalukannya?"
Dan pertanyaan terakhir itulah yang paling menghantui saya:
"Haruskah begini jalan yang kita tempuh?"
Saya tidak tahu jawabannya.
Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya, saya berharap masih ada jalan untuk berhenti sejenak. Bukan untuk melindungi kesalahan. Bukan untuk menghentikan pemeriksaan. Bukan untuk membebaskan seseorang dari pertanggungjawaban.
Melainkan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa di balik setiap jabatan ada manusia. Di balik setiap tuduhan ada kehidupan. Di balik setiap proses politik ada hati yang bisa terluka. Dan di balik setiap keputusan yang kita ambil, akan selalu ada satu hakim yang tidak bisa kita hindari: nurani kita sendiri.
Saya pulang malam ini dengan satu perasaan yang sulit saya sembunyikan.
Saya menyesal.
Bukan karena saya pernah berjuang bersama dia. Tetapi karena saya takut, dalam perjalanan mencari kebenaran, kami telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal: rasa kemanusiaan.
Dan jika masih ada kesempatan untuk memperbaikinya, saya ingin mengatakan kepada teman saya:
Maafkan saya, kawan.
Saya tidak tahu apakah saya mampu menghentikan badai ini. Tetapi saya tahu, saya tidak pernah berharap perjuangan kita yang dahulu berakhir seperti ini.
Tidak begini. Seharusnya tidak begini. (***)
Berita Serupa yang Mungkin Anda Suka
-
Kebijakan Efisiensi Menuntut Kreativitas Kepala Daerah
Oleh: Mursalim Nohong
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas...
-
Taj Mahal: Bukti Romantika Keagungan dan Kebesaran Sang Pencipta
Penulis Wahyudi Muchsin "dokter koboi"
PERJALANAN ini m...





