Jenderal Wani Ewako

12 Februari 2026 22:43:08 Humaniora
Reporter : rusman madjulekka   |   Editor : Admin   |   Jumlah dibaca: 26
Mayjen Bangun Nawoko

Penulis Rusman Madjulekka

ADA Jenderal yang namanya cukup populer dan ramai disebut publik. Sempat viral di jagat maya karena keberanian dan nyalinya. Terutama di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Bukan Jenderal yang namanya dikantongi Presiden Prabowo Subianto berada dibalik tambang ilegal. Tapi sebaliknya, diganjar penghargaan atas prestasinya.     

 “Kalau ditanya siapa Jenderal yang paling rewa (artinya berani dalam bahasa Makassar), masyarakat pasti sebut Jenderal Bangun,” ujar Illank Radjab, aktivis pemuda dan ormas di Makassar.  

Karena beliau orang Jawa, maka istilah yang pas disematkan:Jenderal Wani ewako. Frasa ewako dalam masyarakat Bugis-Makassar berarti "lawan!". Namun, makna persisnya "tetap bersemangat" atau “jangan menyerah”. Semangat besar yang selalu tampak melekat pada dirinya ini sama seperti jargon wani

Ditugaskan menjadi Panglima Divisi 3 Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di Pakatto, Sulawesi Selatan, mulai 17 April 2024. Di situlah ia menunjukkan kepiawaiannya sebagai perwira tempur, intelijen, dan teritorial dalam menarik simpatik masyarakat. 

Ia meredam kerusuhan besar akhir Agustus 2025 di Kota Makassar sehingga tidak membesar dan meluas tanpa ada sebutir peluru pun meletus. Nama lengkapnya: Jenderal Bangun Nawoko. Putra kelahiran Temanggung 10 Februari 1969 ini merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) 1992 dari kecabangan infanteri. Ia satu letting Kasad Jenderal Maruli Simajuntak.

Aksi massa yang anarkis dan beringas di Makassar saat itu merupakan bagian dari gelombang demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah menuntut keadilan atas tewasnya Affan Kurniawan (21), pengemudi ojek online (ojol) yang dilindas kendaraan taktis Brimob saat aksi di Jakarta, Kamis (28/8/2025). 

Di tengah suasana mencekam Bangun hadir. Ia datang dengan seragam dinas bintang dua dipundaknya tanpa baret. Tapi diganti Patonro penutup kepala khas Bugis-Makassar berwarna merah yang kerap diasosiasikan dengan sosok Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin.

Bangun menenangkan massa, membuka blokade massa biar mobil Damkar bisa masuk memadamkan api yang membakar gedung wakil rakyat di Jalan A.P Pettarani Makassar. Prajuritnya diminta membagikan air minum dan memberi pertolongan medis kepada demonstran yang terluka. 

Kostrad turun semata untuk membantu agar situasi dan kondisi kerusuhan bisa teratasi dengan baik dan kembali normal. “Kami hadir mengutamakan keselamatan rakyat, sekaligus menunjukkan pengabdian prajurit bukan hanya di medan latihan dan pertempuran, tapi juga di tengah rakyat saat membutuhkan pertolongan, ” kata Bangun.

Dimata para aktivis, ormas, akademisi, dan tokoh masyarakat, dibalik keberanian dan ketegasannya, Bangun merupakan tipikal Jenderal yang memilih untuk mengedepankan dialog. Karena itu ketika dirinya dipromosikan sebagai Panglima Kodam XIV/Hasanuddin 30 September 2025, kampus dan para aktivis ormas yang pertama didatanginya.

Dalam berbagai kesempatan, Bangun secara khusus “memprovokasi” para generasi penerus bangsa agar memiliki sikap “berani” dan pantang menyerah dalam situasi apa pun. Karena hanya dengan berani, mereka bisa menunjukkan “solusi praktis” hasil olahan intelektual mereka.

Melihat rekam jejak Jenderal Bangun, saya menemukan benih spirit kepemimpinan pada dirinya yang kelak diprediksi akan melambungkan namanya di panggung nasional. Dimana seorang pemimpin tidak hanya menjadi safety player tapi risk taker.

Akhirnya, selamat Jenderal Bangun yang dua hari lalu genap merayakan Milad atau ulang tahun ke- 57. (***)

Nama

Komentar

Berita Serupa yang Mungkin Anda Suka

Berita Terbaru