Jenderal Ewako

11 Desember 2025 12:37:14 Humaniora
Reporter : rusman madjulekka   |   Editor : Admin   |   Jumlah dibaca: 135
Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin.

Penulis: Rusman Madjulekka

AUDITORIUM Baruga Andi Pangerang Pettarani kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Sulawesi Selatan mendadak riuh. Terdengar pekik memecah keheningan dan melecut semangat para audiens yang hadir acara kuliah umum pagi itu, selasa (9/12/2025): “Ewako!” 

Saya yang mengikuti melalui live streaming mencatat setidaknya dua sampai tiga kali jargon penyemangat itu diselipkan pada beberapa bagian pemaparan materinya. Si pembawa materi kuliah umum hari itu adalah Jenderal TNI (purn) Sjafrie Sjamsoedin, Menteri Pertahanan Republik Indonesia.   

Kembali ke sosok Jenderal Sjafrie, saya agak terkejut. Tak menyangka. Meskipun sudah berkelana di dunia militer puluhan tahun dengan berbagai penugasan dan karir yang moncer, ternyata ia tidak kehilangan ciri khasnya yang ramah, sederhana dan kerap menyapa “Ewako”.

Frasa “Ewako” itu adalah kata pembakar semangat khas masyarakat Bugis Makassar. Untuk menyemangati “jagoannya” pada suatu lomba acara pertandingan atau adu “kekuatan”. Seperti sepakbola, adu ayam, pencak silat dan lain sebagainya.

Saya pun mencatat bertambah lagi senior yang meski diwajahnya terkesan serius ala militer, namun tak pernah lupa meneriakkan yel khas Bugis Makassar: Ewako! Bukan hanya kepada teman-temanya sekampung, tetapi juga kadang kepada umumnya wartawan yang dia kenal karena Sjafrie pernah jadi Kapuspen TNI di era orde baru. 

Jargon Ewako, dalam bahasa Bugis Makassar, artinya, "lawan!". Namun makna persisnya, "tetap bersemangat" atau “jangan menyerah”. Semangat besar seperti yang selalu tampak melekat dalam dirinya. Mirip dengan jargon “Wani” yang dikenal warga Surabaya dan Jawa Timur.    

Kata Ewako pertama kali populerkan oleh seorang berlatar militer bintang dua, Zainal Basri Palaguna. Masa itu ia menjabat Gubernur Sulawesi Selatan. Tak hanya dalam naskah pidato, hampir semua program kerja Pemda masa itu selalu diselipi teks Ewako.

Namun sumber lain menyebutkan, kata “Ewako” muncul dan diperkenalkan pertama kali oleh H.M.Daeng Patompo, eks Walikota Makassar. Saat itu ia sedang menyaksikan klub kebanggaannya “PSM Makassar” berlaga pada partai puncak kompetisi Perserikatan di stadion utama Senayan Jakarta. Berulang kali ia berteriak lantang “Ewako” dari tribun memberi semangat tanding bagi pasukan Ramang. Tak peduli penonton yang duduk disekitarnya pendukung tim lawan. Banyak saksi saat itu, termasuk Jusuf Kalla.   

Dengan jargon Ewako, Sjafrie berhasil menciptakan momen kuliah umum itu menjadi ruang dialog kebangsaan yang hidup dan penuh semangat, terutama terhadap para mahasiswa yang memadati ruang auditorium hingga balkon. 

Pun dalam acara itu ia secara khusus “memprovokasi” para mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa agar memiliki sikap “berani” dan pantang menyerah dalam situasi apapun. Karena hanya dengan berani maka para mahasiswa bisa menunjukkan “solusi praktis” hasil olahan intelektual mereka.

Karena itu sejalan dengan spirit “Ewako”, Sjafrie mengajak para mahasiswa Unhas jangan hanya menjadi ‘safety player” tapi “risk taker”. “Saya bermaksud untuk menyemangati adik-adik semua,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Menhan Sjafrie tak lupa mengingatkan pentingnya menjaga dan merawat Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai salah satu simbol pemersatu bangsa, khususnya yang tumbuh dan berkembang dari Indonesia Timur. 

Unhas bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan ruang strategis yang merepresentasikan persatuan nasional dan keberagaman Indonesia. 

“Kita harus menjaga Universitas Hasanuddin ini sebagai universitas yang menjadi simbol persatuan nasional yang berasal dari Indonesia Timur,” pesan Sjafrie. (***)

Nama

Komentar

Berita Serupa yang Mungkin Anda Suka

Berita Terbaru