Ketika kekuasaan Itu diwariskan

11 September 2026 09:23:39 Edukasi
Reporter : asa   |   Editor : Admin   |   Jumlah dibaca: 32
Sampul buku Nepotisme

BERBICARA tentang pemerintahan dan birokrasi di Indonesia, sama seperti kita memasuki "lorong-lorong gelap" yang pengap. Kekuasaan bukan hanya berkelindang dengan apa dapat apa, tapi juga ada kelanggengan kekuasaan yang terasa. Attitude, kepercayaan dan kemampuan personal jadi abai. Di sana, ada balas budi.

Kondisi ini, menjadikan banyak sebagian orang memilih jalan pintas. Inilah yang dilihat Mustamin Raga dalam bukunya Nepotisme, Jalan Pintas Menuju Kekuasaan, yang diterbitkan Rayaz Media.

Mustamin Raga yang telah menulis tujuh buku ini, seakan-akan membawa kita ke alam birokrasi yang penuh intrik dan kekuasaan. Kita tentu tak asing dengan percakapan di lorong gelap, di meja-meja rapat tentang siapa yang menduduki jabatan A. Tak lupa "kontribusi' mereka yang akan diberikan nantinya.

Dan Daeng Raga tahu (panggilan akrabnya) kekuasaan seperti ini, tidak pernah lahir dari talenta yang bagus. Sebaliknya, ia lahir dari uluran tangan kerabat dan pertemenan-- yang kelak akan menjadi penindas.

"Kekuasaan yang lahir dari cara culas, ia akan menjadi penindas" Leo Tolstoy.

Nepotisme bukan hanya tentang seorang penguasa yang mengangkat keluarga atau orang-orang terdekatnya ke dalam lingkaran kekuasaan. Ia adalah sebuah jalan pintas—ketika hubungan darah, kedekatan, loyalitas, dan kepentingan pribadi perlahan menggantikan kompetensi, integritas, dan kelayakan.

Di balik sebuah jabatan, sering tersembunyi jaringan yang tidak terlihat. Ada keluarga, sahabat, kroni, tim sukses, dan orang-orang yang merasa memiliki hak istimewa karena pernah berdiri di belakang sang penguasa. Kekuasaan kemudian tidak lagi dipandang sebagai amanah publik, melainkan sebagai ruang distribusi privilese.

Buku ini mengajak pembaca menelusuri bagaimana nepotisme bekerja: dari ruang keluarga menuju birokrasi, dari lingkaran pertemanan menuju politik, dari kedekatan personal menuju penguasaan sumber daya publik. Ia membongkar bagaimana nepotisme dapat tumbuh secara perlahan, bahkan dengan wajah yang tampak sah, wajar, dan demokratis.  

Persoalan terbesar nepotisme bukan hanya siapa yang mendapatkan jabatan, tetapi siapa yang kehilangan kesempatan.

Ketika yang dekat selalu didahulukan, mereka yang memiliki kemampuan tetapi tidak memiliki akses akan terus berdiri di luar pintu. Ketika kekuasaan menjadi milik kelompok tertentu, demokrasi mungkin masih memiliki pemilu, tetapi keadilan mulai kehilangan tempat.

Nepotisme: Jalan Pintas Menuju Kekuasaan adalah sebuah refleksi kritis tentang kekuasaan, keluarga, jaringan, privilese, dan wajah demokrasi yang sering tampak indah dari luar, tetapi menyimpan lorong-lorong gelap di dalamnya.

Pertanyaan tentang

“Siapa yang berkuasa?” tidak lagi relevan diajukan

melainkan: “Untuk siapa kekuasaan itu digunakan?”

Dan ketika kekuasaan diwariskan kepada mereka yang dekat, kita patut bertanya: Apakah negara sedang dikelola berdasarkan meritokrasi atau sedang perlahan berubah menjadi milik keluarga dan lingkaran kekuasaan saja?

Dan buku Nepotisme ini, enak dibaca sekaligus memperkaya literasi kita. (***)

Nama

Komentar

Berita Serupa yang Mungkin Anda Suka

Berita Terbaru