HatiDamai, Mengatasi Stanting, Menciptakan Generasi Unggul

3 April 2025 16:52:37 Humaniora
Reporter : ahmad   |   Editor : Admin   |   Jumlah dibaca: 193

Wawancara Khusus Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kab. Gowa, Sofyan Daud S.Sos MM

 

NEGERI ini, Indonesia, bakal menghadapi bonus demografi di tahun 2045. Tapi Indonesia juga menghadapi tantangan yang tidak kurang, utamanya pemenuhan gizi untuk anak Balita. Ini untuk menekan jumlah stanting yang ada. Lalu bagaimana dengan Kab. Gowa, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Sofyan Daud S.Sos MM banyak bercerita soal itu kepada wartawan TerasBerita, Com. Ahmad. Berikut petikannya.

 

Indonesia bakal menghadapi bonus demografi. Bagaimana persiapan Kab. Gowa dalam menghadapi hal tersebut?

Kalau kita melihat bahwa bonus demografi adalah Ketika suatu negara atau wilayah struktur penduduknya lebih banyak berusia produktif yaitu usia 15 sampai dengan 64 tahun jika dibandingkan dengan usia non produktif 65 tahun ke atas dan 14 tahun ke bawah, yang mana Indonesia diperkirakan puncak Bonus Demografinya tahun 2045.Saat Indonesia berumur 100 tahun, kira- kira 20 tahun ke depan Gowa yang merupakan bagian dari Indonesia, mau tidak mau harus siap menghadapinya. Kenapa, karena bonus demografi salah satu indikator dari keberhasilan Program KB.

Lalu sejauh mana Anda mampu menekan angka kelahiran di daerah ini?

Ini juga yang menjadi salah satu program utama kami dengan menekan angka kelahiran di Gowa saat ini. Total fertility rate (rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan di masa usia produktifnya) sudah berada di kisaran 2,3. Ini menunjukkan bahwa kesadaran ber- KB di Kab.Gowa sudah bagus. Kita berharap bisa turun sampai 2,1 

Langkah-langkah apa yang dilakukan DPPKB dalam hal ini?

Nah untuk mencapai penduduk tumbuh seimbang (PTS), maka program-program kami di bidang KB harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan kualitasnya.

Adakah program yang terkait dengan masalah itu?

Program yang DPPKB lakukan adalah Program KB Pascasalin (KBPP), target Kita adalah 70 persen minimal Ibu yang baru melahirkan ikut program KB dengan memakai alat KB moderen. Tujuannya agar tidak terjadi kehamilan berikut yang jaraknya di bawah dua tahun, ini juga memberikan kesempatan keluarga tersebut untuk merawat anaknya dengan baik agar bisa terhindar dari Stunting.

DPPKB juga melaksanakan program agar semua kehamilan di Gowa betul- betul direncanakan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) salah satunya kehamilan di luar nikah.

Sementara itu, Program Penghapusan Kemiskinan ekstrim akan memberikan kontribusi dalam penurunan stunting sebesar 65 persen, karena Keluarga resiko stunting salah satunya adalah keluarga.

Sejauh mana peran Posyandu selama ini?

Posyandu yang merupakan institusi Kesehatan yang berbasis masyarakat sebenarnya menjadi harapan kami, sayangnya belum belum terkelolah dengan baik. Sistem lima meja belum berjalan efektif. Padahal, ada indikator keberhasilan Posyandu yaitu SKDN, di mana ketika semua Balita yang ada di Posyandu (S) Memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS/KIA) Datang di Posyandu (D) dan Naik BB mengikuti grafik warna hijau ( N) atau N/S 100 persen..selama ini cakupan Posyandu terhadap Balita rata-rata baru 60 persen..dikuatirkan 40 persen yang tidak datang di Posyandu inilah yang mempunyai masalah Gizi yang ujungnya stunting.

Ada yang menarik dalam bonus demografi, karena diperhadapkan dengan persoalan stunting?

Bonus Demografi yang merupakan peluang bagi Negara dan Wilayah dalam meningkatkan produktifas, akan menjadi ancaman kalau angkatan kerja itu di masa kecilnya stunting. Karena salah satu dampak buruk dari stunting adalah ketika usia dewasa akan menderita penyakit degeneratif seperti jantung, diabetes, hipertensi--yang pasti berpengaruh terhadap peningkatan produktifitas yang bersangkutan, dan akan menjadi beban bagi negara karena biaya kesehatannya cukup tinggi.

Berapa jumlah penderita stunting di Gowa?

Angka Prevalensi Stunting Kabupaten Gowa tahun 2023 sebesar 21.1 persen, dari angka tahun 2022, 33 persen kemudian turun 11.9 persen. Harapan kita hasil SSGI tahun 2024 turun di bawah 20 persen. Menurut WHO, prevalensi stunting normalnya di bawah 20 persen..

Apa yang dilakukan HatiDamai dalam masalah ini?

Program 100 hari dari Ibu Bupati/ Wakil Bupati salah satunya adalah penurunan prevalensi stunting melalui Program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) ini sifatnya Gotong Royong non APBN/APBD, dengan melibatkan semua pihak yang peduli masa depan anak- anak kita, dengan memberikan bantuan kepada anak asuh (1000 HPK) Ibu Hamil dan anak usia 0-23 bln (Baduta), bantuan berupa nutrisi dan non nutrisi khususnya keluarga miskin..

Karena itu, kami jajaran DPPKB menyambut baik program 100 hari Ibu Bupati/ Wakil Bupati dan siap menyukseskan

Apakah persoalan gizi krusial dalam penanganan stanting?

Stunting selalui dimulai dari kekurangan gizi (gizi kurang) bagi anak- anak yang berlangsung lama dan infeksi yang berulang khususnya di usia 1000 HPK. Wasting adalah kondisi gizi buruk atau kurang yang ditandai dengan berat badan (BB) anak tidak sesuai dengan umurnya. Inilah yang harus kita tangani melalui Posyandu agar anak Balita itu BB- nya sesuai umurnya-- yang hasilnya Insya Allah tidak Stunting, dan ini menjadi persoalan Kita di Gowa..

Jika bicara soal gizi ini tak lepas dari masalah ekonomi. Gimana tanggapan Anda?

Memang, salah satu faktor penyebab dari stunting adalah faktor ekonomi. Kalau pendapatan terbatas maka akses untuk mendapatkan makanan yang bergizi pasti berkurang. Maka perbaikan ekonomi keluarga adalah salah satu cara dalam penurunan stunting disamping perubahan perilaku pola asuh.

Lalu apa yang dilakukan Dinas Anda?

Yang kami lakukan dengan mengajak kepada semua pihak untuk menjadi Orang Tua Asuh dengan memberikan bantuan nutrisi dan non nutrisi selama 1000 hari, kepada anak- anak yang orang tuanya kurang mampu. Kami mewajibkan jajaran DPPKB untuk menjadi orang tua asuh minimal satu orang anak asuhnya

Sejauh mana keterlibatan OPD dalam lingkup Pemkab Gowa?

Alhamdulillah, selama ini keterlibatan dari OPD di Kab. Gowa cukup menggembirakan walaupun belum maksimal. Kita berharap ke depannya kepada semua OPD utk bisa menjadi orang tua asuh ( OTA) dengan memilih Ibu Hamil atau anak usia 0- 23 bulan dari keluarga tidak mampu, dengan memberikan bantuan telur dua rak perbulan. Sasaran sudah cukup dengan memilih keluarga sendiri atau keluarga stafnya yg tdk mampu. Target kita tahun ini, 2.252 keluarga.

Apakah menurut Anda dengan program HatiDamai dapat membuat.stanting di posisi nol?

Stunting zero agak sulit kita wujudkan karena penyebab stunting juga karena penyakit sewaktu anak dalam kandungan. Kita cuma berharap agar stunting berada pada prevalensi yang dianggap wajar menurut WHO di bawah 20 persen. Indonesia harapannya 18 persen Nasional (revisi dari target awal 14 persen). Penanganan Stunting multi sektoral pendekatannya harus model pentahelix, tidak mungkin satu SKPD saja bisa menyelesaikan masalah stunting, kolaborasi sangat dibutuhkan..

 

Biodata

Nama: Sofyan Daud S.Sos MM

Tempat/Ttl: Gowa, 22 Agustus 1967

Jabatan: Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana

Pendidikan: Strata Dua (S2) Manajemen Sumber Daya Manusia. (***)

Nama

Komentar

Berita Serupa yang Mungkin Anda Suka

Berita Terbaru