Ikan Yang Tak Pernah Busuk
Ilustrasi
Penulis: Mustamin Raga
(Penulis buku dan seorang essais)
PAGI itu, udara masih mengandung sisa embun. Jalan kompleks perumahan lengang, hanya suara burung peliharaan yang sesekali terdengar. Lalu muncul motor Dg Rala, membawa dua peti ikan kembung segar di atas es mencair, menghembuskan aroma asin yang jujur.
Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja keluar dari “pertandingan” tak seimbang—tawar-menawar dengan ibu muda berwajah cantik tapi lidah tajam. Perempuan itu menatap ikan-ikan dengan curiga, menyentuh insang seperti menilai barang antik.
“Matanya kurang jernih, Pak. Tiga puluh ribu saja sepuluh ekor.” Dg Rala menahan sabar. “Maaf, Bu, harga pelelangan saja tiga puluh lima. Saya ambilnya pagi buta.” Si ibu muda mengibaskan tangan. “Di pasar lebih murah. Kalau tiga puluh, saya pikir-pikir dulu.”
Nada suaranya menusuk seperti duri nelayan. Tawarnya bukan sekadar hemat, tapi ingin menaklukkan. Akhirnya Dg Rala menyerah. Ikan yang mestinya memberi untung, jatuh di harga sama dengan modal. Ibu muda itu tersenyum puas, seperti merasa baru menegakkan keadilan ekonomi. Dg Rala menunduk. Ia kalah, tapi tidak kehilangan dirinya.
Ia melanjutkan perjalanan ke blok lain, menenangkan hati sambil berjanji akan lebih siap. Ia pun menaikkan sedikit harga, bukan untuk menipu, hanya berjaga-jaga.
“Lima puluh ribu sepuluh ekor, Bu,” katanya mantap pada seorang pembeli berkerudung lembut bernama Ibu Yati. Geraknya tenang, matanya teduh. Tangannya memeriksa insang dengan hati-hati, lalu berkata pelan, “Masih segar, ya.”
“Baru dari pelelangan pagi tadi,” jawab Dg Rala, separuh siap menghadapi tawaran. Namun tawaran itu tak datang. “Bungkus dua puluh ekor, ya,” kata Ibu Yati singkat. Dg Rala bengong. Strateginya runtuh seketika. Ia membungkus ikan dengan canggung, merasa bersalah tanpa tahu sebab. Ketika uang seratus ribu berpindah tangan, dadanya bergetar lembut. Ia tahu ia sudah untung lebih. Tapi mengapa hatinya sesak?
Ia menatap uang itu, lalu mengeluarkan selembar uang hijau. “Bu, sebenarnya empat puluh ribu per sepuluh ekor sudah untung. Saya naikkan untuk jaga-jaga kalau ditawar. Maaf, Bu. Ini kembaliannya.”
Ibu Yati menatapnya lama, tanpa marah. Pandangannya dalam, menembus hati.
“Oh, Dg Rala... ikannya segar. Cocok harganya. Saya memang tidak menawar pedagang kecil seperti Bapak.”
Kalimat itu jatuh pelan tapi tajam, membelah dada Dg Rala. Ia tahu Ibu Yati selalu berpihak pada pedagang kecil. Katanya, “Kalau kita menawar terlalu rendah, yang hilang bukan cuma harga—tapi juga rasa syukur orang yang menjualnya.”
Dg Rala menunduk. “Biar saya ambil yang halal saja, Bu.”
Angin berembus pelan, menggerakkan ujung kerudung Ibu Yati. Mereka terdiam, seolah laut jauh di sana ikut menyimak. Ini bukan soal uang dua puluh ribu, tapi tentang garis tipis antara cukup dan tamak, jujur dan licik, syukur dan rakus. Ibu Yati menepuk lengan Dg Rala. “Kalau semua orang berpikir begitu, Dg Rala, dunia akan lebih teduh. Ikan pun tak akan cepat busuk.” Kata-kata itu menancap di dada Dg Rala. Ia menatap ikan-ikannya dan merasa kejujuran juga punya aroma yang tidak amis, tidak menyengat, tapi menyejukkan seperti angin laut yang bersih.
Dalam perjalanan pulang, motornya melaju pelan. Uang di sakunya tak banyak, tapi dadanya lapang. Ada kebahagiaan yang tak bisa dihitung dengan rupiah: rasa damai karena menolak keuntungan dari kebohongan.
“Kejujuran itu seperti ikan segar,” gumamnya lirih. “Disimpan di tempat yang salah, ia busuk. Tapi dijaga dengan ikhlas, baunya jadi doa.”
Matahari naik perlahan, menembus sela pepohonan. Wajah Dg Rala tenang. Ia tahu hidup tak selalu adil; kadang orang baik harus kalah dalam hitungan. Tapi tidak semua kekalahan adalah rugi.
Sebab di ujung keikhlasan selalu ada keuntungan yang tak terlihat—yang entah bagaimana, kelak dikembalikan oleh Tuhan.
Dan mungkin, pikirnya sambil tersenyum, ikan yang dijual dengan kejujuran tak hanya mengenyangkan perut, tapi juga menyehatkan hati.
* Gerhana Alauddin, 14 Oktober 2025_
Berita Serupa yang Mungkin Anda Suka
-
Taj Mahal: Bukti Romantika Keagungan dan Kebesaran Sang Pencipta
Penulis Wahyudi Muchsin "dokter koboi"
PERJALANAN ini m...
-
HatiDamai, Mengatasi Stanting, Menciptakan Generasi Unggul
Wawancara Khusus Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kab. Gowa,




